Category 1

Minggu, 28 Januari 2018

thumbnail


PENGANTAR TEKNIK PEMBORAN

1.      PEMBORAN DALAM EKSPLORASI
1.1    Kegiatan Eksplorasi
         Kegiatan industri minyak dimulai dengan kegiatan eksplorasi, yang tujuannya mencari tempat  yang merupakan jebakan/perangkap minyak.
         Kegiatan ini antara lain berupa :
Ø  Geological Survey.
Mempelajari tanda – tanda atau data yang langsung tampak dipermukaan (Surface Geology) maupun dengan mempelajari data bahwa permukaan yang mungkin sudah ada (Well Logging, Well Cutting, Core, DST)
Ø  Geophysical Survey
ü Gravity Survey – mengukur perbedaan density dari Crustal Rock dengan alat Gravimeter.
ü Magnetic Survey – mengukur variasi dalam intensitas magnetik bumi
ü Seismic Survey – mengukur kecepatan pantulan gelombang seismic.
Ø  Geochemical Survey – meliputi analisa contoh minyak, air formasi, bahkan air sungai dan sebagainya.
         Rangkaian kegiatan tersebut diatas baru mampu untuk menunjukkan tempat – tempat yang mungkin merupakan jebakan minyak. Untuk memastikan kesimpulan tersebut perlu diadakan pemboran, dalam hal ini adalah pemboran eksplorasi

1.2    Pemboran Eksplorasi.
         Pemboran Eksplorasi tujuannya adalah untuk memastikan adanya kandungan minyak atau gas pada suatu daerah tertentu, yang menurut hasil eksplorasi sebelumnya menunjukkan kemungkinan adanya minyak dan gas.
         Keistimewaan dari pemboran eksplorasi antara lain :
Ø Data yang ada sangat terbatas
Ø Biasanya “Low Succes-Ratio”.
Ø Biaya tinggi.
         Untuk suatu daerah tertentu dapat diadakan satu atau sampai beberapa pemboran eksplorasi, sebelum akhirnya berhasil menemukan cadangan hidrokarbon. Bila menemukan cadangan, masih harus diadakan beberapa pemboran lagi untuk menemukan batas reservoir, besarnya cadangan serta nilai ekonomis dari cadangan tersebut.
         Bila cadangan tersebut dinilai cukup ekonomis untuk dikembangkan maka baru dilanjutkan dengan pemboran sumur – sumur pengembangan (development drilling) yang tujuannya menguras cadangan tersebut.
        
2.      PERALATAN PEMBORAN ( DRILLING RIG )
         Peralatan pokok dalam pemboran meliputi antara lain :

2.1     Derrick / Mast & Substructure
Substructure merupakan lantai kerja pemboran, dipasang agak tinggi, dan dibawahnya dipasang alat pencegah semburan (BOP).
Selanjutnya, dalam proses cabut masuk pipa bor untuk mengganti pahat maka pipa bor akan didirikan di lantai bor untuk disandarkan pada menara.
Pipa bor dicabut dan dilepaskan sambunganya setiap 2 batang atau setiap 3 batang (disebut “stand”)
Panjang pipa bor menurut standar API adalah rata – rata 20 ft, atau 40 ft.
Menara berfungsi sebagai tempat menyandarkan pipa bor. Menara ini dapat berupa menara tetap (standard derrick) dan menara yang dapat direbahkan (mast).
( Gambar – 1 )




 
 Gambar -1. Drilling Rig

2.2    Alat Pengangkat (Hoisting Equipment)
         Meliputi peralatan pokok antara lain :
v  Sistim katrol meliputi :
Ø  Crown Block – dipuncak menara
Ø  Travelling Block – roda jalan yang tergantung
Ø  Hook dan Link – tempat beban tergantung
v  Drawwork, sebagai alat pengangkat. Drawwork ini merupakan “Gear-Box ukuran raksasa”, mempunyai drum tempat melilitkan kabel bor, dan digerakkan dengan mesin, biasanya mesin diesel atau mesin listri. Dengan jalan melilitkan atau mengulurkan kabel bor ini kita dapat mengangkat atau menurunkan pipa bor ke dalam lubang bor, (Gambar – 2)
Sebagai contoh – pemboran kedalaman 10.000 ft memerlukan fungsi pengangkat sebesar:
Ø  Drill string – 220.000 lbs atau
Ø  Casing – sekitar 450.000 lbs.







crown-drwksystem

 















Gambar – 2. Sistim katrol pada pemboran.

2.3    Rangkaian Pipa Pemboran (Drilling String)
         Bagian ini meliputi Kelly, Drill Pipe, Drill Collar, Substitute. Pada ujung bahwa drill string di pasang pahat bor.
         Kelly berfungsi untuk memutar seluruh rangkaian pipa bor sampai pahat dengan bantuan meja putar (Rotary Table). Drill Collar (Stang Berat) merupakan bagian pipa yang sangat tebal dan berat, untuk memberikan beban pada pahat. (Gambar-3).



 

  
Gambar – 3 Rangkaian Pipa Pemboran
 
2.4.   Sistem Pemutar.
         Pada rotary drilling pahat bor diputar dengan system pemutar yang terdiri dari
Ø   Rotary Table – Meja putar – yang digerakkan dengan motor penggerak. Motor ini dapat terpisah atau dipasang secara bergabung dengan Drawwork.
Ø   Kelly – pipa berbentuk segi – 4 atau segi – 6 untuk meneruskan pemutaran dari meja putar ke pahat bor.
2.5.   Sistim Sirkulasi
         Serbuk bor harus dibersihkan dari lubang bor, agar pemboran dapat dilanjutkan. Caranya adalah dengan mensirkulasikan Lumpur pemboran ke dalam pipa bor, yang terus mengalir ke bawah sampai pahat.
         Dari sini Lumpur mengalir ke atas lewat annulus sambil mengangkut serbuk bor. Dipermukaan Lumpur bor dibersihkan, untuk kemudian dipompakan lagi ke dalam sumur, demikian seterusnya.
         ( Gambar – 4 )

         Peralatan untuk kegiatan sirkulasi ini antara lain :
Ø  Mud tank :
                  Tanki Lumpur, untuk menampung Lumpur bersih serta Lumpur kotor yang keluar dari annulus. Tanki ini dilengkapi dengan pembersih Lumpur
Ø  Mud manifold :
                  Jaringan pipa untuk mengalirkan Lumpur dari pompa sampai stand pipe.
Ø  Stand Pipe :
                  Bagian dari mud manifold yang dipasang tegak, permanent menempel pada salah satu kaki menara.
Ø  Rotary hose :
                  Slang Lumpur, dari stand pipe sampai swivel.
Ø  Rotary swivel :
                  Bagian teratas dari rangkaian pipa bor, dan merupakan tempat tergantungnya rangkaian pipa bor. Lumpur masuk pipa bor lewat swivel. 
Ø  Degasser
                  Untuk membersihkan lumpr dari gas
Ø  Desander, Desilter
                  Untuk membersihkan lumpur dari pasir


 




















Gambar 4. Sistim Sirkulasi pada pemboran

2.6    Alat pencegah semburan ( Blow Out Preventer )
         Blow Out Preventer (BOP) dipasang pada kepala sumur di bawah lantai bor Fungsinya untuk mencegah semburan dengan jalan menutup sumur bila ada gejala kick atau semburan liar.
Dalam operasi pemboran dipakai beberapa buah BOP, minimum sebagai berikut ;
Ø   Annular Preventer
Ø   Ram Type Preventer
a)     Dengan Pipe Ram
b)     Dengan Blind Ram
( Gambar – 5 )
Semua BOP tersebut dioperasikan secara hidrolik



 
















Gambar – 5. susunan BOP Stack

2.7    Well Head dan Christmas Tree.
         Well Head atau kepala sumur merupakan rangkaian dari beberapa komponen, ialah casing head, casing spool, tubing head, yang dipasang secara bertahap setelah penyemenan setiap casing.
         Selama proses pemboran berlangsung BOP selalu terpasang diatas casing head atau casing spool, dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran casing spool tersebut.
         Setelah pemboran dan penyemenan casing yang terakhir, dan tubing dimasukkan ke dalam sumur, maka diatas tubing head dipasang Christmas Tree. Setelah casing diperforasi dan seluruh pipeline terpasang, maka sumur siap untuk diproduksikan (Gambar-6)



 






















Gambar – 6. Christmas Tree & Well Head.

3.      OPERASI PEMBORAN
         Operasi pemboran suatu sumur dari awal sampai sumur tersebut siap diproduksi meliputi macam – macam kegiatan pokok sebagai berikut :
3.1    Persiapan lokasi, menyangkut :
Ø  Pembuatan lokasi dan jalan masuk
Ø  Pengadaan sumber air
Ø  Pengaturan masalah logistik
Ø  Pengaturan masalah lindungan lingkungan
Ø  Pengangkutan dan penyetelan peralatan bor.

3.2    Pembuatan lubang bor, meliputi :
Ø  Pemboran untuk masing – masing trayek atau kedalaman casing
Ø  Pemasangan pipa selubung (casing) dan penyemenan masing-masing casing.
3.3 Pemeriksaan dan penilaian formasi meliputi :
Ø  Pemboran inti (coring) – untuk mengambil contoh bantuan dari dalam tanah.
Ø  Uji kandungan lapisan – untuk mengambil contoh cairan formasi serta mengetahui tekanan formasi
Ø  Wireline Logging – tujuannya untuk mempelajari sifat-sifat formasi yang ditembus.
3.4    Penyelesaian Sumur ( Well Completion )
         Kegiatan ini meliputi antara lain :
Ø  Pemasangan tubing dan Christmas tree
Ø  Pelubangan casing (perforasi)
Ø  Test produksi
         Setelah semuanya siap, maka peralatan pemboran dan diangkut untuk pemboran selanjutnya
         Adakalanya peralatan pemboran di bongkar sebelum penyelesaian sumur, dan untuk melayani penyelesaian sumur dipasang peralatan pemboran yang lebih kecil sehingga biaya juga lebih murah.

4.      LUMPUR PEMBORAN.
Fungsi utama Lumpur pemboran antara lain :
Ø Membersihkan lubang bor, dengan jalan sirkulasi
Ø Menahan tekanan formasi, dengan tekanan hidrostatis
Ø Mendinginkan dan melumasi pahat dan drill pipe
Ø Menahan dinding lubang bor agar tidak runtuh

         Lumpur bor dibuat dengan komponen utama :
Ø Fase cair ( air tawar, air laut, minyak )
Ø Fase padat ( clay, asphalt )
Ø Bahan tambahan (bahan – bahan kimia Lumpur)
Tergantung dari bahan pembuat Lumpur serta pengolahannya, dikenal macam -macam jenis Lumpur, sebagai berikut :
v  Water base mud
Ø  Fresh water base mud
a.    Natural mud,
b.    Lime mud
c.    Phosphate treated mud
d.    Organic treated mud,
Ø  Salt water mud,
Ø  Polymer mud,
Ø  Oil emulsion mud
v  Oil base mud :
Ø  Oil invert emulsion mud.
Ø  Oil mud (crude oil)
v  Air/natural gas drilling fluid :
Ø  Aerated mud,
Ø  Air / natural gas
Sifat-sifat Lumpur yang harus selalu diperiksa antara lain :
v  Berat Lumpur, dalam gram/cc atau lbs/gal.
v  Tekanan hidrostatis:
                   Ph = 0.052x kedalam (feet) x Berat Lumpur (lbs/gal)
v     Air filtrasi, dalam cc/30 menit
v     Viscosity, dalam centipoises. Biasanya dilapangan cukup dengan marsh funnel Viscometer, dan satuan dalam detik
v     Gel Strength, dalam lbs/100 sq.ft
v     Kadar pasir dalam Lumpur
Lumpur dibuat, dan dirawat, dengan jalan mencampurkan bahan – bahan kimia tertentu agar lumpur tersebut mempunyai sifat seperti yang diinginkan. Selanjutnya Lumpur yang sudah bersih dan baik tersebut dipompakan ke dalam lubang bor lewat drill pipe, turun sampai pahat, kemudian naik lagi lewat ruang annulus dengan membawa serbuk bor. Sesampainya dipermukaan Lumpur disaring  dengan saringan Lumpur (mud screen), serbuk bor dipisahkan dan dibuan. Kalau diangap perlu pada Lumpur ditambahkan bahan – bahan kimia lagi sebelum dipompakan kembali ke dalam lubang bor, demikian seterusnya.
( Gambar - 4 )

5.      PROGRAM CASING DAN PENYEMENAN
         Casing merupakan seamless pipe, dan mempunyai spesifikasi yang menurut standart American Petroleum Institure ( API ) ialah :
Ø Size – ukuran diameter luar casing, dalam inch.
Ø Grade – yang menunjukkan mutu serta kekuatan casing
Ø Weight – berat pipa tiap satuan panjang, dalam lbs/ft, yang sebenarnya berkaitan dengan tabel casing tersebut.
Ø Thread / Connection yang menunjukkan jenis sambungannya.
Ø Length – ialah standart panjang casing, yang dibagi dalam Range 1, Range 2 dan Range 3.
Makin dalam suatu sumur diperlukan casing yang semakin kuat.
Gaya-gaya yang bekerja pada casing di dalam sumur yang terutama adalah :
Ø Tensile load – gaya tarik oleh beratan casing itu sendiri
Ø Collapse pressure – tekanan dari luar casing oleh Lumpur
Ø  Bursting Pressure – tekanan dari dalam casing kepada tekanan formasi atau tekanan penyemenan atau squeeze.
Ketiga jenis gaya atau pembebanan inilah yang akan menentukan jenis casing yang akan dipakai. Mulai disebut sebagai conductor atau Surface Casing, berfungsi sebagai tempat pemasangan BOP yang pertama kali sebelum proses pemboran untuk casing selanjutnya.
Casing String yang terakhir atau Production String berfungsi untuk mengatur produksi. Diantara kedua casing tadi mungkin ada satu atau beberapa casing string lainnya (Intermediace String) yang fungsi utamanya untuk memperlancar proses pemboran.
Ukuran production string sangat menentukan dalam perencanaan ukuran pipa casing yang lain.
Ukuran production casing dapat bermacam – macam, namun kebanyakan orang mengambil ukuran 7”. (Gambar – 7).
 


 

















Gambar – 7. Contoh Konstruksi Sumur

Setelaah casing dimasukkan ke dalam sumur maka ke dalam ruangan annulus antara casing dengan dinding lubang bor diisikan semen. Caranya ialah dengan memompakan bubur semen ke dalam casing, kemudian mendorong bubur semen tersebut agar keluar dari casing dan masuk ke dalam ruang annulus. Pemompaan ini dilaksanakan dengan pompa khusus bertekanan tinggi. (Gambar -8).
Semen yang dipakai adalah semen khusus (Oil Well Cement). Ada beberapa kelas Oil Well Cement, tetapi yang sangat popular saat ini adalah oil well cement class G. semen ini merupakan semen dasar, untuk penyemenan sumur pada kedalaman antara 0-8.000 ft. tetapi dengan penambahan bahan-bahan kimia (Cement Additives) semen ini dapat dipakai untuk menyemen sumur sampai kedalaman 30.000 ft.



 





























Gambar – 8. OPerasi penyemenan sumur.

Tujuan utama dari penyemenan adalah memperkuat dinding lubang bor dan menutup kembali hubungan antara formasi satu dengan yang lain. Sering pula penyemenan dipakai untuk menutup kebocoran casing, atau menutup kembali lubang perforasi yang sudah tidak produktif. Operasi ini disebut Squeeze Cementing.

6.      HAMBATAN DALAM PEMBORAN
         Pemboran tidak selalu lancer. Banyak hambatan yang terjadi. Hambatan ini mengakibatkan operasi pemboran lebih lama, memerlukan material yang lebih banyak, dan akhirnya memerlukan biaya yang lebih mahal.
         Pada prinsipnya ada dua sebab utama atas terjadinya hambatan. Yang pertama karena alasan teknis, ialah formasi dan peralatan. Tetapi alasan kedua juga sangat penting ialah unsur manusia yang dapat menyebabkan terjadinya hambatan tersebut, terutama yang menyangkut pengetahuan, ketrampilan serta watak.
         Hambatan – hambatan ini dapat terjadi secara sendiri – sendiri. Tetapi biasanya satu jenis hambatan mengakibatkan hambatan yang lain.

         Hambatan atau problem – problem utama pemboran ialah.
6.1    Dinding lubang bor runtuh (Caving)
         Dalam hal ini dinding lubang bor runtuh. Biasanya ini terjadi pada lapisan shale, sehingga disebut shale problem. Casing ini sering mengakibatkan pipa bor terjepit. Penanganannya ialah dengan pemakaian Lumpur yang baik, stabil, dan sering dipakai oil base mud. Juga memerlukan cara penanganan atau “Drilling Practice” yang baik. Dinding lubang bor yang runtuh mengakibatkan pipa bor terjepit. Untuk melepaskan pipa terjepit memerlukan pekerjaan pemancingan, yang dapat makan waktu sampai beberapa hari.
6.2    Hilang Lumpur (Mud Loss)
         Adakalanya lumpur hilang, masuk ke dalam formasi. Kejadian ini dapat mengakibatkan turunya tekanan hidrostatis lumpur, yang selanjutnya mengakibatkan semburan liar.
         ( Gambar – 9 )



 


        A. Coasely Permeable Formations.

        B.  Cavernous and vugular formations
                                                                    
        C, D Fissure and / or Fractures

















 

Gambar – 9. Daerah Hilang Lumpur

6.3    Pipa bor terjepit (Pipe Stuck)
         Dalam pemboran sering pipa bor terjepit. Beberapa penyebabnya antara lain
Ø  Caving
Ø  Differential pressure
Ø  Key Seat
         Differential pressure disini adalah perbedaan tekanan di dalam bor dan dalam formasi. Makin besar perbedaan tekanan, makin mungkin terjadi jepitan.
         Pencegahannya antara lain dengan memakai lumpur yang ringan, stabil, dan pemakaian Spiral – grooved drill collar. Key seat merupakan jepitan pipa bor pada lubang bor yang miring. Untuk pencegahannya perlu dihindari perubahan kemiringan yang tajam
Untuk melepaskan jepitan perlu pekerjaan pemancinganyang mungkin dapat memakan waktu berhari – hari, yang berarti menghambat pekerjaan, menambah biaya, dan belum pasti berhasil. Resikonya lubang bor ditinggalkan (abandon) atau dipindahkan (sidetrack).

6.4    Blow Out.
         Blow Out atau semburan liar merupakan hambatan yang paling serius. Satu semburan liar dapat mengakibatkan kerugian material yang sangat besar, terjadi dari musnahnya peralatan pemboran (rusak, terbakar, tenggelam), biaya untuk mematikan semburan, musnahnya sejumlah minyak atau gas yang terbuang, efek keterlambatan operasi, masalah kerusakan lingkungan dan sebagainya.
         Semburan liar diawali dengan masuknya cairan formasi ke dalam lubang bor, yang disebut Well Kick. Bila Well Kick tidak dapat teratasi dengan baik, maka dapat terjadi semburan liar, Well Kick dapat terjadi kalau suatu saat tekanan pada dasar lubang lebih kecil dari pada tekanan formasi. Selanjutnya hal ini dapat terjadi antara lain karena :
Ø  Lumpur terlalu ringan,
Ø  Terjadi hilang lumpur, sehingga permukaan lumpur dalam lubang bor turun.
Ø  Waktu mencabut pipa bor, lubang tidak terisi lumpur dengan cukup.
Ø  Terjadi swab effect, pada waktu mencabut pahat
Ø  Adanya formasi dengan tekanan yang sangat tinggi.

         Untuk mematikan Well Kick dipakai cara – cara tertentu, dan yang paling sering dipakai adalah “Driler Method” dan “Wait & Weight Method”. Prinsipnya cairan formasi harus dikeluarkan dulu dari lubang bor sebelum kita dapat melanjutkan proses pemboran. Kedua cara tersebut diatas dilakukan dengan pedoman bahwa tekanan pada dasar lubang konstan.
         Dikenal pula cara – cara tertentu untuk mematikan sumur yang sudah terlanjur menyembur, bahwa sumur yang terbakar. Umumnya ini dilakukan dengan pemboran Relief Well, ialah pemboran sumur miring tidak jauh dari sumur yang terbakar.
         Semburan liar ini dapat mengakibatkan kerugian material yang sangat besar, dan bahkan korban jiwa. Sayangnya sampai saat ini semburan liar masih sering terjadi. Dan lebih disayangkan lagi bahwa sebagian besar penyebab semburan liar dapat digolongkan sebagai kesalahan manusia (human error). Maka untuk mencegah semburan liar ini disamping mutu peralatan, kemampuan dari para karyawannya perlu ditingkatkan.
         Saat ini dimana – mana dilaksanakan kursus Well Control. Dibeberapa Negara diterapkan peraturan, bahwa orang yang bekerja di pemboran harus memiliki sertifikat keahlian pencegahan semburan.

7.      PEMBORAN BERARAH (DIRETIONAL DRILLING)
         Pada jaman awal kegiatan industri perminyakan ini sumur minyak dibor secara vertical. Tetapi kemudian timbul masalah serta kebutuhan untuk melakukan pemboran berarah, ialah sumur dibelokkan dengan arah dan kemiringan tertentu secara terkendali.
         Bahkan dalam waktu sepuluh tahun terakhir mulai banyak diterapkan pemboran horizontal, yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari pemboran berarah sehingga bagian bawah sumur merupakan bagian horizontal.
         Alasan pemboran berarah antara lain ;
Ø   Relief Well, untuk mematikan sumur yang menyembur,
Ø   Lokasi dipermukaan tidak memungkinkan untuk melakukan pemboran (kota, sungai, danau)
Ø   Penghematan biaya pembuatan lokasi (daerah pertanian, rawa, anjungan lepas pantai, dll). (Gambar -10)

         Ada tiga tipe profil yang umum dipakai dalam pemboran berarah ;
         Tipe I        :  Titik belok (KOP) relatif dekat dengan permukaan.
                              Tipe ini paling banyak dipakai.
         Tipe II       :  Berbentuk S, tipe ini diapakai terutama bila diinginkan agar sumur menembus formasi produktif secara tegak lurus.
         Tipe III      :  Sebenarnya sama dengan tipe I, tetapi KOP terletak jauh dari permukaan. Ini dipakai misalnya pada daerah patahan, endapan garam .
                           ( Gambar – 11)

 


































Gambar – 10. Alasan Pemboran Berarah. 




















Gambar – 11. Profil Sumur Miring

Ada beberapa alat pembelok yang dipakai. Dulu dipakai alat seperti Spud Bit atau Whipstock. Untuk formasi lunak dapat dipakai Badger Bit, ialah pahat dimana salah satu nozzle diperbesar, lainnya diperkecil. Karena pengaruh pancaran lumpur (jet effect) lubang bor akan membelok kearah corot (nozzle) yang besar. Saat ini banyak dipakai Downhole Mud Motor (Turbo Drill, Dyna Drill, Navi Drill) yang digabung dengan Bent Sub.
(Gambar – 12)










NAVI-DRILL® MACH 2
         The Navi-Drill Mach 2 is perhaps the most
Persatile of all downhole motors. 11 can improve
Economics in either straight-hole or directional
Drilling with hight performance diamond bits. This
Versatility stems irom the multi-stage, ½
Rotor / stator which allows a wide range of RPM
And torque combinations so that bits can be
Selected to match the requirements of the
Formation, not the motor.
         Deviation control plus high ROP. The mach2
Puts out hight torque and medium RPM to increase
Penetration rales without requiring more weight
On the bit, so deviation control is not sacrificed ior
Drilling speed.

TOOL DESCRIPTION
         The Navi-Drill Mach 2 is nyorauiically-driven
Positive displacement motor, and like other motors in
The Navi-Drikk Mach series, it uses the Moineau
Principle to drive the drill bit without rotating the
Drill string. The mach 2 incorporates more stages
(helix revolutions) than the other positive
Displacement motors so it delivers more rotational
Horsepower to the bit.
         Fewer moving parts. The Mach 2 contains
Lewer moving parts than comparable downhole
Motors. This lengthens motor liie by reducing its
Yenerability toiriction and temperature. Thus,
Mach 2 drills faster, further, and with greater
Reliability






Gambar -12. Navi-Drill Mach 2

Arah dan kemiringan lubang dapat diketahui dengan macam – macam Directional Survey Instrument yang mengandung peralatan pokok antara lain kompas (untuk menunjukkan arah) dan bandul (pendulum) untuk menunjukkan kemiringan. Prinsip ini dipakai misalnya pada Eastman Directional survey instrument. Sejak beberapa waktu yang lalu diperkenalkan alat kendali yang baru, yang dikenal dengan nama Measurement While Drilling (MWD). Alat ini mendasarkan pada pulsa tekanan lumpur pada sensor yang dipasang pahat.
         Kemiringan lubang dapat bervariasi, sesuai dengan keperluan atau program. Pada umumnya sampai sekitar 40 – 60 derajat. Tetapi untuk beberapa keperluan lubang bor dapat sampai hampir horizontal (lateral drilling)
         Beberapa jenis hambatan yang mengikuti operasi pemboran berarah antara lain pipa terjepit (karena key seat, caving, differential pressure), serta pipa bor patah (kelelahan). Untuk mengurangi efek tersebut maka kecepatan pembelokan disarankan tidak lebih dari 3 derajat tiap 100 ft.

8.      UJI KANDUNGAN LAPISAN
         Uji kandungan lapisan atau Drill Stem Test (DST) merupakan salah satu kegiatan dalam pemboran. Hal ini terutama dilaksanakan dalam permboran eksplorasi.
         Dalam operasi Uji Kandungan Lapisan ini alat UKL diturunkan ke dalam sumur dengan bantuan pipa bor, dan dalam keadaan tertutup.
         Kemudian packer disekatkan, untuk memisahkan ruangan dibawah packer dari ruangan diatas packer. Bila peralatan UKL dibuka, maka formasi dihadapkan pada tekanan di dalam pipa bor yang sama dengan tekanan udara.
         Maka bila di dalam formasi ada cairan yang biasanya bertekanan, cairan formasi tersebut akan mengalir ke sumur dan masuk ke dalam pipa bor. Bila tekanan cukup tinggi, cairan formasi tersebut mampu mengalir sampai kepermukaan.
         Jadi Uji Kandungan Lapisan ini merupakan penyelesaian sumur sementara, dengan tujuan utama antara lain ;
Ø  Untuk memastikan apakah ada minyak atau gas
Ø  Bila ada, bagaimana sifat-sifatnya
Ø  Berapa tekanan formasinya
Ø  Bagaimana produktivitasnya
         Di dalam rangkaian pipa UKL ini dilengkapi dengan alat pencatat tekanan dasar sumur, yang mencatat segala perubahan tekanan selama pelaksanaan UKL. Grafik tekanan ini akan sangat membantu dalam menentukan apakah formasi dapat dikembangkan secara komersial.
Uji kandungan lapisan ini dapat dilakuka di dalam lubang terbuka (Open Hole Test), tetapi sering pula dilaksanakan di dalam casing (Cased Hole Test).



 

























Gambar -13. Skema OPerasi UKL

9.      PENYELESAIAN SUMUR
         Sumur sudah selesai dibor sampai casing terakhir dan disemen. Kemudian dilengkapi dengan Well Head, dan kedalam sumur dimasukkan tubing. Casing dilubangi atau diperforasi. Kemudian dipasang Christmas Tree, dipasang flowline, dan sumur siap untuk diproduksikan.
         Dalam sumur tersebut mungkin ada beberapa lapisan produktif. Penyelesaian sumur dapat dari hanya satu lapisan, dengan pengertian bila produksi dari lapisan tersebut habis, kemudian pindah kelapisan atasnya (recompletion). Tetapi bila terdapat beberapa lapisan produktif, umumnya produksi dilakukan dari beberapa lapisan sekaligus (Multiple completion).
 (Gambar -14)
 



























Gambar -14. penyelesaian sumur bawah tanah. 

10.    PEMBORAN LEPAS PANTAI
         Sudah lama diketahui bahwa minyak juga ditemukan di lepas pantai. Khususnya di Indonesia pengembangan lapangan lepas pantai dimulai pada awal dekade tahun 1970.
         Ada beberapa jenis platform untuk melakukan pemboran di lepas pantai penentuan jenis ini terutama tergantung dari kondisi lingkungan (kedalaman air, arus, angina dan cuaca) dan tujuan pemboran.
         Jenis – jenis platform ini adalah :
Ø  Fixed platform
ü Fixed platform /” Artificial Island”.
ü Fixed platform, Single Well
ü Fixed platform, Multipe Well.
Ø  Bootom Supported Platform ;
ü  Jack Up Rig (Gambar – 15)
ü  Tender Jack Up Rig
ü  Submersible Rig / Drilling Barge
Ø  Floating Platform
ü  Semi – Submersible Rig. (Gambar-16)
ü  Drilling Vessel
         Ditinjau dari segi peralatan serta operasianya, bila dibanding dengan pemboran di darat terdapat beberapa perbedaan penting yang perlu dicatat ;
ü  Pada pemboran lepas pantai tempat sangat sempit, padat,
ü  Khusus pada pemboran dari floating rig ada beberapa peralatan istimewa ialah Blow Out Preventer dipasang di dasar laut, dan kapal selalu bergerak sehingga diperlukan motion compensator dan sistim jangkar.
         Ditinjau dari segi penyelesaian sumurnya, maka :
Ø Pemboran dari Fixed Platform : penyelesaian sumur secara konvensional, Well head dan Christmas Tree dipasang pada platform.
Ø Pemboran dari Bottom Supported Platform ; Penyelesaian sumur biasanya secara konvensional, dengan Weel Head dan Christmas Tree di atas Platform.
Ø Pemboran dari Floating : Christmas Tree dapat didasar laut (Subsea Christmas Tree), atau pula di atas platform, tetapi dengan menyambung casing sampai platform, setelah dipasang jacket dan platform.



 






















Gambar – 15. Jack Up Rig.










 























Gambar -16. Semi – Submersible.

11.    EKONOMI PEMBORAN
         Biaya pemboran suatu sumur dapat dihitung sesuai dengan perincian seperti terdapat pada Bab 3 – Operasi Pemboran, dengan pokok pengeluaran antara lain:
Ø  Pembuatan lokasi – meliputi lokasi bor, jalan masuk, sumber air, infrastruktur pemindahan dan pemasangan rig, yang jumlah seluruhnya tergantung kondisi lokasi
Ø  Operasi pemboran – menyangkut sewa peralatan dan pekerja pemboran
Ø  Jasa – logging, cementing, mud logging, directional survey.
Ø  Material pemboran – pahat, lumpur semen, bahan kimia, bahan baker.
Ø  Material penyelesaian sumur casing, tubing, packer, well head, Christmas tre
Ø  Catering, dan lain sebagainya.

         Biaya ini sangat bervariasi, dan tergantung dari banyak factor, seperti ;
Ø  Tarif sewa rig
o    Rig besar sewanya lebih mahal
o    Saat kegiatan menurun seperti sekarang ini, tarifnya juga turun.
Ø  Kedalaman sumur
Makin dalam sumurnya berarti makin lama, makin banyak material yang diperlukan, makin banyak hambatan, sehingga juga makin mahal.
Ø  Lokasi :
Daerah rawa, kurang fasilitas insfrastruktur.
Ø  Tujuan pemboran :
Pemboran eksplorasi umumnya lebih lama, data sangat kurang, banyak kegiatan penilaian formasi, umumnya lebih mahal.
















DAFTAR PUSTAKA

1.      A.T. Bourgoyne Jr, K.K. Millheim,
         M.E Chenevert, F.S. Young.
         Aplied Drilling Engineering,
         Society of Petroleum Engineers, TX, USA, 1986

2.      H.B. Bradley
         Petroleum Engineering Handbook.
         Society of Petroleum Engineers, TX, USA, 1987.

3.      Neal J. Adam
         Drilling Engineering, Complete Well Planning Approach
         Pen Well Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, USA, 1985.






SILO. Diberdayakan oleh Blogger.

Category 1

About Me

cepu, jawa tengah, Indonesia

PENGANTAR TEKNIK PEMBORAN 1.      PEMBORAN DALAM EKSPLORASI 1.1     Kegiatan Eksplorasi          Kegiatan industri minyak dimu...

audients

Loading...

Cari Blog Ini

Blog Archive

BlogCepu

Instagram

Follow on G+

Popular Posts

Popular Posts